Lion Air
Lion Air

Lion Air Berlakukan Aturan Bagasi Berbayar: Apakah Memberatkan Penumpang?

Posted on

Januari lalu, Lion Air membuat keputusan yang dirasa cukup memberatkan penumpang. Maskapai penerbangan yang termasuk Lion Group terkenal dengan biayanya yang rendah. Kini, layanan bagasi gratis untuk semua penumpang sudah resmi dihilangkan. Keputusan ini tentu ditentang oleh banyak pengguna. Mereka mengatakan, aturan baru ini bukan hanya memberatkan penumpang tapi juga tidak adil. Lion Air yang dianggap masih di bawah standar maskapai lain di kelasnya, dianggap membuat blunder besar dengan memberlakukan bagasi berbayar. Sebelumnya, mereka meniadakan biaya bagasi mencapai 2kg.

Sampai sekarang, Lion Air masih memberlakukan ketentuan bahwa barang yang dapat masuk ke kabin maksimal berdimensi 40cm x 30 cm x 20 cm sedangkan berat maksimalnya adalah 7 kg. Itulah kenapa tahun 2019 menjadi tahun yang sulit karena selain memberlakukan bagasi berbayar, maskapai penerbangan yang tergabung di Lion Group juga tak juga menurunkan harga tiketnya.

Lion Air
Lion Air

Sebenarnya, pemberlakuan bagasi berbayar dan kenaikan tariff pesawat ini bukan tanpa alasan. Kebijakan ini diambil karena pertimbangan biaya operasional yang semakin hari semakin besar. Mau tidak mau, kebijakan berat nan dilematis ini harus diambil agar mereka tetap bisa eksis membantu penerbangan Indonesia.

Jelas, kebijakan ini ditentang terang-terangan oleh para penumpang, termasuk Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini sangat tidak efektif  karena bukan hanya membebani penumpang namun juga berpotensi menimbulkan antrian panjang di bandara khususnya saat check in. Jika kebijakan ini tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin penumpang setia maskapai yang tergabung ke dalam Lion Group terutama Lion Air akan berpindah haluan. Ada juga indikasi bahwa kebijakan ini hanya menjadi alasan basi maskapai untuk meraup keuntungan yang lebih besar.

Namun, Lion Air tak sendirian. Banyak maskapai penerbangan lain khususnya yang berbiaya rendah justru mengikuti langkah berani ini. Misalnya adalah Wings Air dan juga Citilink dari Garuda Group. Mereka berdalih, kebijakan menggratiskan biaya bagasi dan tiket murah akan mengancam mereka terpuruk dan berhenti beroperasi.

Aturan Tarif Bagasi

Kebijakan penerapan bagasi berbayar ini sebenarnya tak melanggar aturan perundang-undangan tentang angkatan udara Indonesia. Mereka berpedoman pada Peraturan Menteri Perhubungan no PM 185 2015 pasal 22 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkatan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam aturan tersebut, maskapai penerbangan dibedakan menjadi 3 kategori berdasarkan pelayanannya, yaitu maskapai dengan pelayanan standar maksimum (full services, maskapai dengan pelayanan standar menengah (medium services), dan maskapai dengan pelayanan standar minimum (no frills). Jika maskapai full services dan medium services dilarang memberlakukan bagasi berbayar hingga batas berat tertentu, lain halnya dengan maskapai no frills yang bebas memberlakukan biaya dan tariff termasuk biaya bagasi dengan persetujuan atau izin dari Direktur Jendral Perhubungan Udara.

Simulasi & Jatah Bagasi Berbayar

Melalui kebijakan barunya, Lion Air memberlakukan tariff bagasi dari awal perjalanan yaitu sebesar 37 ribu per kg per penumpang. Artinya, jika kalian bepergian dari Jakarta ke Bali dengan membawa bagasi 20kg, maka biaya bagasinya sekitar 740 ribu. Tarif ini belum termasuk tiket pesawat yang harga tiketnya berkisar 750 ribu hingga 1 juta tergantung kapan dan di mana kalian memesan tiket. Dari sini, kita bisa melihat betapa signifikan kenaikan biaya yang harus dibayarkan oleh penumpang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *